Lawu...!!! Mendengar kata itu aku langsung teringat bagaimana perjuanganku untuk mencapai puncak tertinggi gunung itu.
Berawal dari ujian mid semester yang tak kunjung usai sehingga membuat pikiran terasa di penjara dalam suatu buku* lebay*. Hati kecilku mengatakan bahwa aku harus pergi ke suatu tempat yang dimana aku bisa berteriak sekeras mungkin. Nah,kebetulan sekali ada temanku yang mengajak ke puncak gunung Merbabu, Akupun langsung setuju karna mungkin itulah pengalaman pertamaku. Namun tidak tahu kenapa mereka mengubah tujuan kita yang semula ke Merbabu menjadi ke Lawu. Bagiku tak masalah, yang penting bisa mendaki gunung yang lumayan tinggi.
Hari H pun tiba. Semua perlengkapan dan persediaan makanan sudah siap. Kami berangkat dengan sembilan orang pakai motor dari Jogjakarta menuju Cemoro Sewu yaitu pintu gerbang menuju puncak lawu yang berada di Jawa Timur. Tiga jam setengah lumayan membuat cape dengan barang bawaan yang lumayan berat, tapi semua itu hilang saat melewati keindahan bukit yang berada di Tawang Mangu.
Setelah kami sampai di Cemoro Sewu, kami langsung saja membeli karcis untuk melakukan pendakian. Pendakian kami lakukan sekitan jam 19.30 WIB. Tidak lupa kami berdoa agar selama pendakian tidak terjadi apa-apa dan bisa turun lagi dengan selamat. Akhirnya kami pun melangkah menuju puncak setapak demi setapak. Sekitrar satu jam perjalanan, salah satu teman kami ada yang mengalami gejala hypotermia. Akhirnya kami pun mencari tempat untuk mendirikan tenda, sampailah pada pos bayangan pertama. Di gunung Lawu ada lima Pos dengan dua pos bayangan yang berada antara pintu gerbang sampai pos 1. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan untuk bisa melewati 5 pos di Lawu. Sekitar 6 jam melakukan perjalanan,kami pun sampai di pos 3. Perjalanan terasa lama karena kami sering berhenti untuk istirahat *maklum,masih pemula..*.Antara pos 2 sampai pos 3, pemandangan mulai tmpak indah, rasa cape pun terasa hilang. Di pos 3 kami mengisi perut lagi dengan nasi yang dimasak spesial edisi Lawu, yaitu nasi gosong tapi gak matang, tapi semua itu terasa enak, mungkin karna berada di alam kali yaa?? Setelah perut terisi kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya.Antara pos 3 sampe pos 4 track sangat berat sekali, sudut kemiringan lumayan bisa untuk mengikuti aksi Spiderman.Nah di track ini kami melihat bunga simbol keabadian,yaitu bunga Edhelweis. Kami juga melewati sebuah sumur yang dipercaya mengikuti kekuatan mistis. Akhirnya kami sampai di pos 4. Di pos ini tidak seperti pos-pos sebelumnya karena tidak ada bangunan atau tempat bertaduh, hanya sebuah tanah lapang yang bisa buat mendirikan tenda. Perjalanan dari pos4 sampai pos terakhir tidak terlalu lama. Kami dapat menempuhnya sekitar 40 menit. Pos 5 adalah pos yang menurutku paling enak, karna disitu fasilitasnya lumayan lengkap, ada warung, toilet, dan sendang yang bisa di ambil airnya, tapi juga harus hati-hati karena di sendang itu katanya ada penunggunya. Sampai di pos5 sekitar jam 3 sore,rencana mau lihat sunset di puncak tapi karna kabut yang tebal akhirnya kami putuskan untuk mendirikan tenda di pos 5 saja untuk melihat sunrise di keesokan harinya. Sampai di pos 5 hanya ada rombongan kami saja, namun pada malam hari ternyata banyak rombongan lain yang menyusul kami di pos 5. Pada malam hari udara di pos 5 sangat dingit sekali. Tiga lembar baju dan jaket serta sebuah selimut tebal tak bisa menahan dinginya udara gunung Lawu. Sekitar jam 3.30 dini hari kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Lawu untuk melihat SunRise. Track yang kami lewati lumayan berat karena kami menghindari pasar dieng atau pasar setan. Konon katanya jika lewat pasar setan dan mendengar suara gaib “Arep tuku opo le???” artinya “Mau beli apa nak??”, maka harus membuang uang dan mengambil rumput atau daun yang berada di samping kita, istilahnya kita melakukan jual beli. Dengan memilih track yang lebih berat maka kami sampai di puncak sekitar 20 menit dari pos 5.Tak lupa kami mengabadikan suasana di puncak Lawu yang berketinggian 3.265 di atas pemukaan laut. Setelah puas melihat Sunrise kami pun kembali turun dari puncak menuju Cemoro Sewu. Perjalanan terasa sangat berat karena harus menahan tas yang lumayan berat. Akupun hanya bisa membawa tas sampai pos 3 saja, seterusnya tas aku titipin sama teman,enak kan??hehe,,
Walaupun tidak membawa beban, kakiku sudah tak sanggup lagi untuk melengkah, tinggal beberapa meter ke pintu gerbang,aku melangkah sangat pelan sekali, bahkan setiap dua langkah aku selingi dengan istirahat sejenak, sampai akhirnya kami dapat menuruni gunung Lawu sekitar 4 jam.
Dengan sisa kekuatan kaki kami, kami paksakan agar bisa kembali ke jogja. Sampai di jogja kaki terasa tak bertulang hingga butuh waktu seminggu untuk memulihkan tenaga kami..
Thank's buat teman-temanku yang udah bawain tasku sampai bawah,hehe
Coming Soon....Gunung Ungaran di Semarang......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar